Tempat Kita Berbagi Berita

Kesohoran Bunut, Simbol Kemandirian Ekonomi Masyarakat Asahan yang Berkarakter

ASAHAN – Ekonomi mandiri merupakan satu dari 10 program prioritas Pemerintah Kabupaten Asahan di bawah kepemimpinan Bupati H Surya B.Sc, dan Wakil Bupati Taufik Zainal Abidin S.Sos M.Si.

Banyak sudah upaya yang dijalankan pemerintah daerah dalam rangka mendukung karakter kemandirian ekonomi masyarakat di Asahan. Salah satunya dengan memaksimalkan, membantu dan mengayomi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang kian tumbuh subur di Bumi Rambate Rata Raya.

Hampir satu abad lamanya, pada zaman kolonial wilayah Kabupaten Asahan merupakan daerah perkebunan penghasil getah karet terbaik. Kesohorannya hingga menembus pasar-pasar eropa.

Sekitar tahun 1970-an ada terdapat sebuah pabrik karet yang berlokasi di wilayah Bunut, salah satu kelurahan di Kecamatan Kisaran Barat Kabupaten Asahan yang mempekerjakan banyak warga lokal.

Di Bunut, pabrik tersebut memproduksi cetakan tapak sepatu berbahan dasar karet yang berasal dari alam perkebunan Asahan. Sejak saat itulah Bunut dikenal dan tersohor dengan karetnya  hingga penjuru Eropa.

Siang masih sangat terik ketika dentuman suara pukulan palu terdengar menghantam silih berganti dipermukaan cetakan tapak sepatu disebuah usaha konveksi rumahan pengrajin milik salah seorang warga.

Bau lem menyengat kuat. Sesekali juga terdengar raungan suara mesin jahit yang samar – samar berpacu dengan lantunan ria musik dangdut hingga turut bergema dari pojokan salah satu rumah warga.

Wartawan media ini, baru – baru ini menyambangi sebuah rumah usaha konveksi pengrajin sepatu dan sandal bermerek Bunut di Kelurahan Bunut Kecamatan Kota Kisaran Barat, Kabupaten Asahan dan bertemu dengan Tomo (58) salah seorang pengrajin di sana.

Terdata, ada sekitar belasan tempat usaha konveksi pengrajin sepatu dan sandal di Kelurahan Bunut ini yang masih produktif menjaga langgam kejayaan nama besar kampung mereka hingga pernah berjaya kuasai pasar Eropa di masanya. 

Tomo menjadikan hampir 50 persen rumahnya sebagai lokasi konveksi pembuatan sepatu Bunut. Ada sekitar delapan orang pekerja turut serta berkerja pada tugasnya masing-masing.

Mulai dari pemotong bahan kulit, menjahit, penapak tapak karet sepatu hingga memberikan lem perekat. Mereka sudah diberi pos tugas masing – masing. Sementara Tomo hanya memandori kerja mereka saja.

Hampir dua tahun lamanya karena pandemi para pengrajin ini nyaris berhenti beraktivitas dari kegiatan produksi. Namun, kini semua sudah normal kembali. Sepatu – sepatu Bunut tak lekang dan tetap diminati.

Seluruh pengrajin sepatu Bunut di sini rata-rata telah berusia senja. Namun, kebanyakan dari mereka telah mewariskan ke generasi berikutnya, termasuk Tomo.

“Kalau dulu memang dapat keahlian (bikin sepatu) waktu masih ada pabrik karet di sini itu sampai tahun 80-an,” kata Tomo.

Produksi karet Sumatera Utara (Sumut) yang mencapai hampir 600 ton per tahun dengan luas lahan berkisar lebih dari 585 ribu hektar lebih berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumut, dimana wilayah Asahan menjadi salah satu penyumbang hasilnya.

Pabrik karet yang berada di Bunut saat itu memproduksi sebuah cetakan tapak sepatu yang kemudian diselaraskan dengan bahan kulit, dijahit menjadi sepatu atau sandal dengan kualitas wahid.

Diakui saat itu memang tak banyak masyarakat yang tau ada sebuah tempat di Kisaran, Kabupaten Asahan, pernah berdiri sentra pembuatan sepatu dan sandal ternama dan pernah jaya di awal tahun 1980-an. Bahkan pemasarannya bisa menembus negara- negara barat.

Nama Bunut, diambil dari sebuah kelurahan yang berada di bagian barat kota Kisaran ini, dulunya pernah ada sebuah pabrik karet yang menghasilkan tapak sepatu / sandal berkualitas berbahan kulit. Tak kalah dari Cibaduyut dari Jawa Barat.

Sudah puluhan tahun yang lalu  pabrik karet tersebut tutup. Namun bekas buruh pabrik meneruskan keahlian mereka membuat tapak sepatu dan sandal berbahan karet bertahan hingga turun temurun termasuk Tomo.

Ketika itu, puluhan warga sekitar terberdayakan dengan kehadiran pabrik karet Uni Royal yang saat ini bernama PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP) yang memproduksi tapak sepatu sampai pabrik itu berhenti beroperasi.

“Jadi begitu tutup orang orang di sini yang pernah kerja jadi punya keahlian bikin sepatu kemudian buka sendiri,” kata dia.

Era kejayaan sepatu bunut ada di tahun 80-an hingga awal tahun 2000-an. Pengrajin sepatu yang membuat lalu memasarkan sendiri produknya di rumah – rumah mereka.

Kemudian lokasi pemasaran juga berada strategis di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) jalur Timur menuju kota Medan.

Sepatu bunut, diklaim mempunyai kualitas yang baik dan jahitan yang rapi. Modelnya kini beragam dan cocok dipakai untuk dalam setiap kegiatan acara, hingga pertemuan. Untuk mendapatkan sepasang sepatu ini dibandrol mulai harga Rp 100 hingga Rp 500 ribu.

Hingga sampai saat ini, kejayaan sepatu bunut belum kembali meski sudah banyak pihak yang mendorong membantu pengrajin atau pengusaha meningkatkan produksinya. Ikut campur tangan Pemkab Asahan turut membantu pemasaran sepatu Bunut hingga bangkit berjaya lagi.

Program pinjaman bergulir bantu UMKM dan Sejahterakan Masyarakat

Salah satu persoalan yang pernah dihadapi dan telah teratasi oleh para pengrajin itu tentu saja urusan permodalan serta urusan pemasarannya.

Salah seorang pengrajin lainnya bernama Jupri mengaku saat ini penjualan sepatu Bunut terbilang lumayan baik selepas masa sulit Covid-19 berlalu.

Sebelumnya ia bersama beberapa pengrajin lainnya pernah mendapatkan bantuan usaha program dari Pemerintah Kabupaten Asahan hingga pelatihan.

Di sini, peran pemerintah daerah hadir membantu usaha mereka termasuk sepatu Bunut. Kebanyakan dari pengrajin yang kekurangan modal selama pandemi Covid-19 bisa mendapatkan bantuan pinjaman bergulir dari Dinas Koperasi Perdagangan dan Industri Kabupaten Asahan.

“Bantuan pinjaman bergulir untuk modal usaha itu sangat bermanfaat dan dirasakan,” terangnya.

Pada pertengahan Maret 2022 lalu saja misalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan menyalurkan dana pinjaman bergulir dengan total sebesar Rp 715 juta  kepada 103 pelaku usaha mikro termasuk diantaarnya pengrajin dan UMKM melalui buku tabungan bekerjasama dengan Bank Sumut.

“Pelaku usaha yang menerima dana pinjaman sudah melalui verifikasi administrasi dan faktual,” demikian kata Kepala Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian (Kopdagin) Kabupaten Asahan, Drs. Ilham.

Bupati dan Wakil Bupati Asahan saat berkesempatan meninjau stand UMKM masyarakat dalam setiap acara kegiatan pemerintah. (Istimewa).

Sementara itu, dalam satu kesempatan lainnya Bupati Asahan H Surya saat memberikan pengarahan kepada masyarakat yang menerima pinjaman bergulir di kantor Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian (Kopdagin) mengharapkan dana pinjaman bergulir tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para penerimanya khususnya dalam pengembangan usaha.

Bupati Asahan mengingatkan dana pinjaman bergulir bukan merupakan dana bantuan atau hibah, melainkan dana pinjaman yang bersumber dari APBD Kabupaten Asahan.

Tujuannya untuk membantu penguatan modal kepada koperasi dan pelaku usaha mikro termasuk para pengrajin sepatu Bunut, sehingga terwujudnya pengembangan dan kemandirian pelaku pelaku usaha mikro guna mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah.

“Saya mengharapkan kepada seluruh pelaku usaha mikro agar dapat mempergunakan dana pinjaman bergulir ini dengan sebaik – baiknya untuk pengembangan usahanya, dan mengembalikan dana pinjaman bergulir ini sesuai dengan jadwal jatuh tempo pinjamannya,” kata Bupati Asahan, H Surya.

Selain itu, dana bergulir ini juga telah disalurkan pada tahun 2011 untuk membantu pengusaha mikro yang kesulitan mengembangkan usahanya dan terus berlanjut hingga saat ini.

Dana pinjaman bergulir wajib dikembalikan agar koperasi dan pelaku usaha mikro yang lain bisa juga menikmati manfaat dari atas program ini, karena dana tersebut akan digulirkan kembali kepada pelaku usaha mikro lain yang membutuhkan.

Kemandirian Ekonomi yang Berkarakter

Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi, Perdagangan, dan Industri Kabupaten Asahan, Novrida Lasmaria Sitorus, saat ditemui wartawan, Senin (6/3/2023) mengatakan saat ini untuk pelaku UMKM di Kabupaten Asahan ada sebanyak 13.572 yang telah didata.

Dikatakannya, setiap tahun jumlah pelaku UMKM terus bertambah. Hingga Februari 2023 yang terdata di Dinas Koperasi, Perdagangan dan Industri Kabupaten Asahan terdapat pertumbuhan sebanyak 285 usaha mikro.

Bidang Usaha Mikro telah melakukan upaya dalam menciptakan kemandirian pelaku usaha dengan memberikan fasilitas pelatihan dan pemasaran produknya untuk menambah pendapatan.

Tidak hanya pada pengrajin sepatu Bunut, pelatihan kemandirian wirausaha juga sering dilakukan kepada kelompok masyarakat agar mereka berdaya.

“Untuk pelatihan sudah sebanyak 429 pelaku usaha mikro yang telah kita berikan pelatihan,” kata Novrida.

Novrida mengatakan sejauh ini pada 2023, Dinas Kopdagin sudah memberikan pembinaan dan pelatihan kepada 429 pelaku usaha mikro kecil dan menengah. Mereka dibantu cara pemasarannya.

Dinas Koperasi, Perdagangan dan Industri (Kopdagin) pada bidang usaha mikro ini bersifat membina dan membuka wawasan pengusaha mikro baik dalam produk yang dijual hingga pemasaran.

Termasuk, Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Asahan juga turut serta mengajak pelaku usaha dalam Germaskop (Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi). Di mana, tujuan dari kegiatan adalah mengajak pelaku koperasi untuk menghidupkan badan usaha kerakyatan ini dan meningkatkan kesadaran koperasi bagi masyarakat menuju sejahtera.

Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Asahan juga terdapat bidang UMKM. Mereka berencana akan melakukan kolaborasi dengan pelaku usaha di Asahan untuk dalam hal pemasaran.

“Nantinya setiap market besar di Kisaran ini kita kerjasamakan bagaimana ratusan UMKM yang terdaftar pada kita itu menjadi berdaya.Caranya dengan memasarkan produk mereka di market – market tersebut,” ucapnya.

Saat ini Kopdagin sedang melakukan peraturan setiap market wajib memiliki satu buah tempat berupa rak yang diisi oleh produk-produk UMKM masyarakat Asahan.

“Dengan demikian setiap market di Asahan ini ada produk olahan dari UMKM lokal kita. Ini sudah kita lakukan salah satunya di Imam Market,” ucapnya.

Akselerasi lain yang dilakukan Dinas Kopdagin ditambahkannya mereka kini aktif membantu memasarkan produk UMKM Asahan yang dikaryakan masyarakat melalui media digital sosial media.

Kopdagin Asahan juga melakukan inovasi penjualan memanfaatkan media sosial misalnya Facebook, Instagram, atau website.

Adapun, pada setiap kegiatan pemerintahan juga sering dibuka ruang untuk pelaku UMKM lokal. Mereka diberiakan stand untuk memasarkan produk.

Termasuk, pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Asahan Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Asahan akan memberikan ruang kepada penggiat UMKM sehingga mereka terberdayakan secara mandiri dan mendapat kesempatan memasarkan produknya lebih jauh.

Begitulah semangat Pemkab Asahan dalam menumbuhkembangkan kemandirian ekonomi masyarakatnya dari waktu ke waktu. Bercermin dari kualitas sepatu Bunut yang tak lekang begitu pula semangat Pemkab Asahan dari setiap masa ke masa tetap mengupayakan ekonomi mandiri sebagaimana satu dari sepuluh program prioritas dibawah kepemimpinan Bupati Asahan H  Surya B.Sc dan Wakil Bupati Taufik Zainal Abidin Siregar, S.Sos. M.Si.  (Ulil Amri)  

bagikan